Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Mengenal Lebih Dekat Wali Allah

Mengenal Lebih Dekat Wali Allah

MENGENAL LEBIH DEKAT WALI ALLAH 

Mengenal Lebih Dekat Wali Allah

[ 1 ] Pengertian Wali 

 Wali ( الولي ) ditinjau dari makna secara bahasa memiliki arti dekat. ( القرب و الدنو ).  

Adapun al-Wala ( الولاء ) dengan difathahkan wawunya, artinya adalah kedekatan dan pertolongan. Bila dikasroh artinya adalah loyalitas dan konsisten. 

Adapun pengertian dalam syariat maka para ulama member devinisi yang satu sama lain saling mendukung dan melengkapi. 

Berkata Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah: “Yang dimaksud dengan para wali Allah adalah hamba-hamba-Nya yang beriman. Dikarenakan merekalah yang mendekatkan diri kepada Allah dengan mentaati-Nya dan tidak mendurhakai-Nya. Allah subhanahu telah menjelaskan di dalam firman-Nya; 

(( الَّذِينَ آمَنُوا وَ كَانُوا يَتَّقُونَ )) 

“Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka senantiasa bertakwa” Qs. Yunus 63. 

Maksudnya, mereka mengimani apa-apa yang wajib untuk diimani dan menjauhi apa-apa yang wajib untuk dijauhi dari kedurhakaan terhadap Allah”. [ Fathul Qadir: 2/457 ] 

Berkata Al-Imam Ibnu Hajar rahimahullah: “Yang dimaksud dengan wali Allah adalah orang yang berilmu tentang Allah dan konsisten dalam mentaati-Nya serta ikhlas dalam mengibadahi-Nya”. [ Fathul Bari: 10/350 ] 

Berkata Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah: “Wali Allah adalah orang yang dekat dengan Allah dan diberi keistimewaan”. [ Badai’ul Fawaid: 3/106 ] 

Berkata Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah rahimahullah: “Dikatakan, wali dinamakan demikian karena terus konsisten berbuat ta’at. Dan kebalikan dari wali adalah musuh atas dasar kedekatan”. [ Al Furqan Baiyna Auliyaur Rahman Wa Auliyausy Syaithan: 6 ]  

Beliau juga menerangkan, “Al-Walayah ( الولاية ) artinya adalah keimanan dan ketakwaan yang mencakup pendekatan diri (kepada Allah) dengan mengamalkan yang wajib maupun sunnah” [ Majmu’ Al Fawaid: 10/440 ] 

Beliau menerangkan, “Maka wali Allah adalah orang yang loyal terhadap Allah dengan mencocoki cinta dan ridha-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan melaksanakan apa yang Dia perintahkan dari ketaatan” [ Majmu’ Al-Fawaid: 11/440 ] 

Berkata Al-Imam As-Suyuthi rahimahullah: “Wali Allah adalah orang yang mengenal Allah sesuai yang dia mampui, yang konsisten dalam mentaati-Nya, menjauhi kedurhakaan terhadap-Nya, dan berpaling dari kegemaran berlezat-lezat dan menuruti hawanafsu” [ Itmamud Dirayah: 7 ] 

Bisa disimpulkan dari uraian definisi-definisi para ulama di atas bahwasannya wali Allah adalah hamba Allah yang beriman lagi bertakwa, dekat dengan Allah dan diberi keistimewaan dengan kedudukan tinggi yang tidak dicapai oleh yang lain, karena konsistennya dalam menjalankan tuntutan agama baik lahir maupun batin. 

Allah ta’ala telah menjelaskan di dalam Al-Qur’an bahwasannya Allah ta’ala memiliki para wali dari kalangan manusia, demikian juga syaithan memiliki para wali. 

Allah Ta’ala berfirman: 

أَلَا إِنَّ أَولِيَاءَ اللهِ لَا خَوفٌ عَلَيهِمْ وَ لَا هُمْ يَحْزَنُونَ. الَّذِينَ آمَنُوا وَ كَانُوا يَتَّقُونَ. لَهُمُ البُشْرَى فِى الحَيَاةِ الدُّنْيَا وَ فِى الآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ الله ذلِكَ هُوَ الفَوزُ العَظِيمُ 

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan (dalam kehidupan) akhirat. Tidak ada perubahan pada kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar”. Qs. Yunus62-64. 

Allah ta’ala juga berfirman: 

إِنَّمَا ذلِكُمُ الشَّيطَانُ يُخَوِّفُ أَولِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَ خَافُونِ إِن كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ 

“Sesungguhnya itu tidak lain adalah syaithan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang beriman”. Qs. Ali Imran: 175 

Allah ta’ala juga berfirman: 

وَ إِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَولِيَاءِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ 

“Dan sesungguhnya syaithan itu membisikkan kepada para walinya agar mereka membantah kamu”. Qs. Al-An’am: 121

[ 2 ] Perbedaan Antara Wali Allah dan Wali Syaithan

Bahwasannya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka tidak pula mereka bersedih. Dan mereka adalah orang-orang yang beriman lagi bertakwa.

Bahwasannya wali-wali Allah adalah yang memurnikan agama hanya untuk Allah, dan menjadikan rasul sebagai hakim dalam lahir dan batinnya. Mereka akan menentang yang lain dalam rangka membela sunnahnya, bukan menentang sunnah beliau untuk membela orang lain. 

Merka tidak berbuat bid'ah dan tidak mengajak kepada kebid'ahan. Tidak bergabung kepada golongan selain Allah, rasul-Nya, dan para shahabat. Tidak menjadikan agama sebagai mainan dan olok-olok. Tidak lebih memilih mendengarkan suara berbau syaithan daripada mendengarkan Al-Qur'an. Tidak mementingkan bergaul dengan para anak laki-laki berparas (amrod) dengan meninggalkan keridhaan Allah. Tidak lebih memilih suara musik dan nyanyian daripada suara surat Al-Fatihah.

Tidaklah samar perbedaan antara wali-wali Allah dan wali-wali syaithan kecuali bagi orang yang kehilangan bashirah dan iman. Bagaimana mungkin orang-orang yang berpaling dari Al-Qur'an, petunjuk Nabi ﷺ dan sunnahnya, menyelisihi beliau dan selain daripada itu dianggap sebagai wali Allah, sementara mereka menentang Allah dengan sepenuh hati dan berpaling dari petunjuk Nabi ﷺ dan sunnahnya ?!

وَمَا كَانُوا أَوْلِيَاءَهُ  إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُونَ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

"Dan mereka bukanlah wali-wali-Nya. Para wali-Nya hanyalah orang-orang yang bertakwa. Akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui" Qs. Al-Anfal: 34.

Wali-wali Allah adalah mereka yang mengenakan pakaian yang dicintai Pelindung mereka (Allah), mengajak kepadanya, dan memerangi orang-orang yang keluar darinya.

Sementara wali-wali syaithan mereka mengenakan pakaian yang dicintai penolong mereka (syaithan) baik dalam hal ucapan dan perbuatan. Mengajak kepadanya dan memerangi orang-orang yang menghalanginya.

Jika kamu melihat orang yang menyukai suara berbau syaithan, seruan syaithan, rekan-rekan syaithan, dan mengajak kepada apa yang disukai oleh syaithan dari kesyirikan, bid'ah, dan perbuatan fajir maka kamu akan mengetahui bahwasannya dia tergolong wali-wali syaithan.

Jika perbedaan antara wali-wali Allah dengan wali-wali syaithan tersamarkan olehmu, maka singkaplah pada keadaan-keadaan berikut ini: pada shalatnya, kecintaannya terhadap sunnah dan pengikutnya, kedekatannya dengan mereka, seruannya terhadap Allah dan rasul-Nya, pemurnian tauhid dan mutaba'ah, dan berhukumnya dengan sunnah.

Timbanglah dengan perkara-perkara tersebut. Dan jangan kamu menimbangnya dengan keadaannya, atau hal-hal yang di luar kebiasaan seperti dia bisa berjalan di atas air atau terbang di udara. [ diringkas dari Kitab Ar-Ruh: 735-739]

[ 3 ] Perbedaan Antara Keadaan Nuansa Keimanan dan Keadaan Keadaan Nuansa Syaithan

Keadaan yang bernuansa keimanan itu buah hasil dari mengikuti rasul ﷺ, ikhlas dalam beramal, dan pemurnian tauhid. Kemudian hasil selanjutnya adalah manfaat bagi kaum muslimin, baik dalam agama maupun dunia mereka. 

Hal itu akan menjadi benar dengan disertai istiqamah di atas sunnah, dan komitmen pada perintah dan larangan agama.

Sementara keadaan yang bernuansa syaithan penisbatannya itu kepada kesyirikan atau kefajiran. Hal itu tumbuh karena kedekatannya dengan syaithan, jalinan hubungan, atau keserupaan dengan syaithan. 

Hal ini terjadi pada para penyembah berhala, salib, api, dan syaithan. Ketika pelakunya menyembah syaithan, maka syaithan memberikan kepadanya suatu keadaan (yang keluar dari kebiasaan) untuk memancing orang-orang yang lemah akal dan imannya.

لِيُرْدُوهُمْ وَلِيَلْبِسُوا عَلَيْهِمْ دِينَهُمْ  وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا فَعَلُوهُ

"Untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya". Qs. Al-An'am: 137.

Maka setiap keadaan yang pelakunya keluar dari hukum Al-Qur'an dan apa yang datang dari sunnah Rasul ﷺ maka itu adalah keadaan yang bernuansa syaithan.

Aku (Ibnul Qayyim) telah mendengar keadaan para penyihir, para penyembah api, para penyembah salib, dan orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada islam secara lahiriah semata, sedang batinnya berlepas diri darinya, mereka memiliki sebagian dari nuansa keadaan-keadaan ini sesuai dengan kedekatan mereka dengan syaithan, dan permusuhannya terhadap Allah.

Bahkan, bisa jadi seseorang merupakan sosok yang jujur, namun tersamarkan perbedaan ini atasnya, sehingga keadaanya pun menjadi bernuansa syaithan. Meskipun ia seorang yang zuhud, banyak beribadah, dan ikhlas tetapi perkara ini samar olehnya dikarenakan sedikit pengetahuannya tentang keadaan syaithan, dan malaikat, serta hakikat keimanan.

Telah banyak dari mereka yang merasa keadaannya bernuansa keimanan, padahal bukan, bahkan mereka lebih mirip dengan para pemilik imajinasi dan hal-hal di luar kebiasaan, menceritakan ini dan itu sehingga banyak manusia yang terkecoh dengannya dikarenakan mereka tidak bisa membedakan antara keadaan yang bernuansa keimanan dan keadaan yang bernuansa syaithan. Mereka mengira setiap yang hitam itu kurma, dan setiap yang putih itu susu.

Maka Al-Furqan; petunjuk yang bisa membedakan antara yang benar dan yang batil itu merupakan hal termulia di alam ini. Itu merupakan cahaya yang Allah hidupkan di dalam hati manusia sehingga bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Bisa menimbang hakikat suatu perkara; antara baik dan buruknya, dan antara layak dan rusaknya.

Maka siapa yang tidak memiliki Al-Furqan ini niscaya dia akan tersesat dan menjadi sekutu-sekutu syaithan. 

[ Kitab Ar-Ruh, hal. 739-740 ]

[ 4 ] Di Antara Prinsip Ahlussunnah Adalah Mengimani Karomah Para Wali

Al-Imam Ath-Thahawy rahimahullah berkata; "Dan kita mengimani dengan berita yang datang perihal karomah-karomah para wali, serta berita (mengenai hal ini) yang shahih dari orang-orang yang terpercaya dalam periwayatan mereka". [ Aqidah Thahawiyah ]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata; "Di antara prinsip-prinsip ahlussunnah adalah membenarkan terhadap karomah-karomah para wali dan apa yang terjadi melalui diri-diri mereka dari hal-hal di luar kebiasaan baik dalam berbagai macam ilmu, penyingkapan, kemampuan, dan pengaruh. Serta apa yang datang dari ummat-ummat terdahulu seperti tersebut di dalam surat Al-Kahfi dan selainnya, atau yang terjadi di generasi awal ummat ini dari kalangan shahabat, tabi'in, dan seluruh ummat. Dan itu akan selalu terjadi di tengah-tengah ummat ini hingga hari kiamat". [Aqidah Wasithiyyah]

Al-Mujaddid Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata; "Dan aku menetapkan adanya karomah para wali serta apa-apa yang terjadi pada diri mereka dari penyingkapan-penyingkapan. Hanya saja, mereka tiada berhak mendapatkan semisal hak Allah sedikutpun, dan tidak boleh dimintai pada hal-hal yang tidak dimampui kecuali hanya oleh Allah Ta'ala semata" [ Ar Risalah Fi Aqidatisy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab ]

[ 05 ] Makna Karomah

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Khalil Harras rahimahullah; "Karomah adalah hal-hal ajaib yang terjadi di luar kebiasan yang Allah perlakukan melalui diri wali dari wali-wali-Nya sebagai pertolongan buat mereka, baik untuk urusan agamanya maupun urusan dunianya" [ Syarh Aqidah Wasithiyah, hal. 369 - 370 ]

Berkata Asy-Syaikh Yasin Al-Adeni rahimahullah; "Karomah adalah munculnya hal ajaib di luar kebiasan pada diri seorang yang melekat pada dirinya keimanan dan amalan shalih dengan tanpa diiringi pengakuan kenabian. Dan hal ini tidaklah terjadi kecuali pada diri seorang wali Allah.

Dan ucapan mereka "karena keimanan dan amalan shalih" untuk mengeluarkan darinya al-Masy'udz (orang yang meminta bantuan kepada syaithan dalam menjalankan aksinya). Karena jika orang jenis ini memunculkan hal ajaib di luar kebiasaan maka itu tipuan syaithan dan sihir.

Dan ucapan mereka, "tidak diiringi dengan pengakuan kenabian" karena jika ada orang yang mendatangkan hal ajaib di luar kebiasaan dengan diiringi pengakuan kenabian maka hal ini dinamakan mukjizat atau ayat (tanda kenabian)" [ Ta'liq Syaikh Yasin 'Ala Syarh Aqidah Wasithiyyah ]

[ 06 ] Macam-macam Karomah

1. Anugerah ilmu. 

Yaitu seorang dapat meraih ilmu yang tidak diraih oleh orang lain.

2. Mukasyafat.

(Penyingkapan tabir rahasia). Yaitu seorang memberitakan sesuatu dalam bentuk persangkaan yang kuat. Kemudian terjadilah hal tersebut persis seperti yang dia beritakan.

3. Kekuatan dan pengaruh. 

Yaitu seorang mendapatkan kekuatan dan pengaruh yang tidak didapatkan oleh yang lain. Seperti kisah ashabul kahfi. Juga kisah Maryam ketika mendapatkan rezeki yang membuat Nabi Zakaria takjub, demikian pula kisah beliau ketika sedang mengandung Nabi Isa.

4. Penjagaan. 

Yaitu Allah ta'ala menjaga hamba-hamba-Nya dari kalangan para wali-Nya dari terjerumus ke dalam jerat-jerat syaithan. Hal ini seperti yang dikatakan Rasul kepada Umar bin Khattab;

و الذي نفسي بيده، ما لقيك الشيطان قط سالكا فجا إلا سلك فجا غير فجك

 "Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah syaithan bertemu denganmu ketika melewati suatu jalan, melainkan dia akan melewati jalan selain jalanmu" HR. Bukhari dan Muslim.

5. Mimpi yang baik dan benar. 

Yaitu Allah memuliakan sebagian hamba-hamba-Nya yang beriman dengan mimpi yang benar, yang memasukkan kegembiraan ke dalam hati hamba tersebut; sama saja apakah dia sendiri yang melihat mimpi itu, atau orang lain yang melihatnya.

[Ta'liq Syaikh Yasin Ala Syarhi Aqidati Wasithiyyah Lil Harras, hal. 370-371]

[ 07 ] Terjadinya Karomah Karena Adanya Hikmah atau Maslahat

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah; "Dan di antara hal yang perlu diketahui bahwa, karomah-karomah itu terjadi sesuai dengan kebutuhan seseorang. 

Jika ada seorang yang lemah iman membutuhkan hal tersebut atau seorang yang membutuhkan maka datang kepadanya karomah yang menguatkan imannya atau menutupi kebutuhannya, sedang orang yang lebih sempurna kewaliannnya tidak membutuhkan hal tersebut, sehingga tidak datang kepadanya semisal karomah itu karena derajatnya yang tinggi dan tidak butuhnya ia terhadap hal itu, bukan karena derajat kewaliannya yang berkurang.

Oleh karena inilah, karomah-karomah ini lebih sering muncul melalui para tabi'in daripada para shahabat". [ Al-Fatawa, 11/295 ]

Asy-Syaikh Muhammad bin Khalil Harras menerangkan bahwa di antara hikmah terjadinya karomah antara lain:

  1. Bahwasannya karomah itu seperti seperti mukjizat. (Dalam artian sama-sama) menunjukkan atas bukti yang kuat akan sempurnanya kemampuan Allah dan terlaksananya kehendak-Nya. Bahwasannya Allah ta'ala itu berbuat sesuai yang dikehendaki-Nya, bahwasannya Allah ta'ala di atas ketetapan-ketetapan dan sebab-sebab yang biasa ini, memiliki ketetapan-ketetapan lain yang tidak bisa dicapai oleh ilmu manusia, tidak pula usaha mereka.
  2. Bahwasannya terjadinya karomah para wali itu sejatinya mukjizat para Nabi itu sendiri. Karena karomah tersebut tidaklah terjadi melainkan kareba barokah mengikuti para Nabi serta berjalan di atas petunjuk mereka.
  3. Bahwasannya karomah para wali itu sebagai kabar gembira yang Allah ta'ala segerakan di dunia. [ Syarh Aqidah Wasithiyyah Lil Harras ]

[ 08 ] Jenis-jenis Manusia Dalam Menyikapi Karomah

1. Kelompok yang ghuluw (berlebihan).

Mereka seperti kelompok Asy'ariyah. Mereka menetapakan adanya karomah dan mukjizat, hanya saja mereka berlebihan terhadapnya. Karena para pimpinan mereka menegaskan bahwasannya hal ajaib yang terjadi di luar kebiasaan yang muncul dari para Nabi juga bisa muncul dari para wali. 

Bahkan, mereka menyatakan para penyihir pun bisa melakukan hal semacam itu, hanya saja yang membedakan antara penyihir dan nabi adalah pengakuan kenabian. Dan yang membedakan antara penyihir dan wali adalah kebajikan dan ketakwaan.

As-Subuki telah mengingkari pernyataan seperti ini, dan telah membantahnya di dalam kitab ( Thabaqat Asy-Syafi'iyyah 2/320 ), yang intinya seperti berikut; bahwasannya suatu kemustahilan jikalau seorang Nabi membuat tantangan ( untuk kaumnya yang ingkar ) dengan suatu mukjizat yang Allah berikan kepadanya kemudian hal itu bisa berulang melalui tangan seorang wali. Meskipun hal itu bisa dinyatakan boleh terjadi menurut akal, namun tidak semua yang dinyatakan boleh terjadi menurut akal mesti terjadi.

2. Kelompok yang mengingkari.

Mereka sepeti kelompok mu'tazilah dan ahli filsafat. Mereka menyatakan bahwa hal ajaib yang terjadi di luar kebiasaan itu tidaklah muncul kecuali dari kalangan para Nabi saja. Mereka mengingkari hal seperti itu muncul dari para penyihir dan dukun, bahkan karomah para orang-orang shalih.

Berkata Ibnu Abil 'Izz di dalam kitab ( Syarh Aqidah Thahawiyah, hal 498 ); "Ucapan kelompok mu'tazilah terkait pengingkaran terhadap karomah sangat nampak kebathilannya, karena sama saja dengan itu mereka mengingkari hal-hal yang bisa dirasakan oleh panca indera (Mahsusat)".

3. Kelompok yang menetapkan.

Merekalah Ahlus Sunnah. Mereka menetapkan adanya karomah dan mukjizat. [ Ta'liq Syaikh Yasin Ala Syarhi Aqidah Wasithiyyah Lil Harras, hal. 371-372 ]

https://t.me/RaudhatulAnwar1


Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih

KETIKA CINTA HARUS MEMILIH

Ketika Cinta Harus Memilih

Begitulah judul Muhadhoroh dari Ustadzuna Abu Nashim Mukhtar حفظه الله تعالى yang Dilaksanakan di Ma'had Dzunnurain Parung Bogor Jawa Barat,iya terkadang cinta seseorang harus memilih, antara cinta kepada Dunia atau mendahulukan cinta kepada Allah, terkadang seorang harus memilih Cinta terhadap Pekerjaan dengan Cinta terhadap seruan Allah تعالى ,itulah cinta yang suatu saat harus memilih antara dua Keadaan.

>> Download Audio Kajian "Ketika Cinta Harus Memilih" (via Telegram)

Beliau membawakan Hadits Nabi Dari Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه , diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

"ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما......"

"Tiga keadaan apabila ada seseorang maka ia akan merasakan manisnya Iman:

"Allah dan Rosul-Nya lebih ia sangat cintai dari selain keduanya...."

Mungkin judul di atas merupakan kesimpulan dari Hadits Ini,iya memang Pada satu kesempatan terkadang Cinta seseorang harus memilih tergantung iman yang ada pada hamba tersebut.

Ada yang salah dengan judul diatas?

Jawabannya tidak ada yang salah,selama judul tersebut tak bertentangan dengan Syariat islam boleh-boleh saja, karena asal dari satu judul merupakan satu kebiasaan dan satu kebiasaan merupakan perkara yang Mubah.

Syaikhunaa Abbas Jaunah حفظه الله تعالى ,beliau menyebutkan kaidah ini di banyak pertemuan diantara yang beliau sampaikan dalam bentuk tanya jawab:

"Apa hukumnya memakai cincin Tunangan bagi sepasang pengantin yang akan menikah"?

Para murid beliau menjawab:

" Tidak boleh wahai Syaikh,karena sering sekali padanya ada keyakinan agar cinta semakin erat diantara mereka"?

"Kalau tanpa keyakinan ini bagaimana?" Tanya Syaikh

Para santri pun terdiam.

Beliaupun menjawab:

"Hal ini tidaklah mengapa karena meskipun ini bukan berasal dari Islam namun sudah menjadi kebiasaan kaum Muslimin,selama tidak ada keyakinan padanya hal tersebut hukumnya boleh,karena kaidah menyebutkan

الأصل في العادة الإباحة

Asal dari Adat kebiasaan adalah 

Mubah".

Nah judul dari Muhadhoroh diatas tak perlu dipermasalahkan kawan,dengan anggapan Ini kebiasaan judul dipakai Hizbiyyah,judul ini  dipakai di agama Katolik,ini dipakai di Sinetron....bla..bla...

Hakikat dari sesuatulah yang menjadi barometer dari satu perkara,selama tak menyelisihi Syariat dan bukan menjadi satu sifat kebiasaan atau satu pengenal pada golongan atau firqoh tertentu maka tidak mengapa,mari bijak dalam berargumen.

Aden 22-Mei-2023/2-Dzulqodah-1444H

https://t.me/Rihlahsyabab


Bila Kegalauan Kesusahan Mendera

Bila Kegalauan Kesusahan Mendera

BILA KEGALAUAN - KESUSAHAN MENDERA

Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَصَابَ أَحَدَكُمْ غَمٌّ أَوْ كَرْبٌ فَلْيَقُلِ : اللهُ ، اللهُ رَبِّي لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

"Bila seorang dari kalian tertimpa musibah; kegalauan (kesedihan) dan kesusahan, maka ucapkanlah: Allah, Allah Rabbi Laa Usyriku bihi Syaian (Allah, Allah, wahai Rabb-ku, aku tiada menyekutukan pada-Nya dengan sesuatu pun)."

HR. Ibnu Hibban, no.864

Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 2755.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan bimbingan agar senantiasa mendekat dan mendekat kepada Allah, Rabb alam semesta, yang Mahakuasa atas segala sesuatu.

Seorang hamba yang tengah menghadapi kesulitan menata hidup, kegalauan, kesedihan yang begitu kuat menekan batinnya, ucapkanlah sebagaimana dituntunkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Galau, sedih, perasaan tertekan secara psikis, bisa diakibatkan beragam masalah. Maka, sebaik-baik tempat mengadu adalah kepada Allah, Rabb Yang Maha Mengatur kehidupan.

Yakinlah, bahwa masalah yang dihadapi akan berlalu sirna dengan pertolongan Allah Subhanahu. Karenanya, bersabarlah. Kuatkan diri menghadapi kemelut hidup, memohonlah pertolongan kepada Allah Ta'ala. 

Air tak selamanya pasang, ia akan surut jua, dengan izin-Nya. Badai tak selamanya mendera, ia akan mereda pula, dengan izin-Nya.

Semoga Allah Ta'ala senantiasa memberikan, taufiq, kesehatan,  pertolongan, keberkahan dan semangat dalam hidup.

ditulis oleh:

al Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin hafizhahullah 


============

HANYA KEPADA ALLAH KUADUKAN SEMUA KESUSAHAN

Saat Nabi Ya'qub 'alaissalam menghadapi masalah berat, ia mengadukan kepada Allah Ta'ala. Itu terungkap melalui firman Allah Subhanahu:

*قَالَ إِنَّمَآ أَشْكُوا۟ بَثِّى وَحُزْنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ*

Ya'qub menyatakan, "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya".

📚  Surah Yusuf: 86

Al-Batstsu mengandung arti kesedihan yang teramat mendalam. Kesusahan yang begitu berat untuk dihadapi. Duka nan terlalu perih pedih untuk dirasa. 

Saat kesusahan dan kesedihan menyelimuti Nabi Ya'qub 'alaissalam, ia adukan hanya kepada Allah Subhanahu saja. Tidak kepada yang lain. 

Allah Subhanahu adalah sebaik-baik tempat mengadu, sebaik-baik tempat memohon, sebaik-baik yang memberi jalan keluar. Mengadukan segenap keluh kesah, gundah gulana, dan semua masalah yang menimpa kepada Allah Ta'ala, tatkala diri tak mampu lagi untuk memikulnya, merupakan proses kanalisasi tingkat tinggi. Proses "nguda rasa" yang akan memunculkan rasa lapang dan meringankan tekanan psikis yang bertubi. 

Ayat ini memberi pelajaran kepada segenap hamba untuk senantiasa dekat dan selalu mendekat kepada Allah Ta'ala. Senantiasa memohon kepada Allah Subhanahu saat keadaan senang dan saat dirundung beragam kesusahan. Mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu melalui berbagai bentuk amal ibadah yang telah disyariatkan Allah dan Rasul-Nya. 

Semoga dengan itu, hati pun tenang dan bahagia. Tak ada lagi rasa sempit menghimpit dada. Sebab, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. 

Allahu a'lam. 

ditulis oleh:

al Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin hafizhahullah 

»Channel Telegram || https://t.me/fawaidsolo


Judul Jadul

Judul Jadul

Judul Jadul

Ustadz Abu Nasim Mukhtar
Judul Jadul

Sesuatu yang berulang dari masa ke masa, berlanjut di tiap generasi, kadangkala diistilahkan dengan, “ Ah, itu mah judul jadul”. Juga sering disebut, “ Lagu lama “.

Diksi “judul” bertransfomasi secara makna. Menurut KBBI, judul adalah nama yang dipakai untuk buku atau bab dalam buku yang dapat menyiratkan secara pendek isi atau maksud buku atau bab itu. Maka, ada judul buku, judul kajian, judul ceramah, judul cerita, judul acara, bahkan di kalangan lebih luas ada judul film.

 Termasuk zalim teriak zalim, maling menuduh maling. Ia yang berbuat, jutsru ia limpahkan kepada yang lain. Karakter orang semacam ini bukanlah suatu yang baru. Jangan kaget. Jangan terkejut. Sebab, di setiap masa, selalu kita temui. Zalim teriak zalim adalah judul jadul.

Agustus 2022, tahun kemarin, siswa-siswa kami mengeluhkan banyaknya kasus kehilangan, terutama uang. Ada dugaan yang mengarah kepada satu anak. Dari perilaku dan kebiasaannya, wajar saja teman-temannya tidak merasa nyaman. Termasuk jajannya yang kenceng, padahal kiriman dari orang tuanya terbatas. Berkali-kali COD-an membeli barang yang sifatnya aksesoris belaka.

Anaknya anak baru. Baru beberapa bulan bergabung. Asrama kelas III yang terpisah lokasinya lebih dari 200 meter dari asrama kelas I, di lantai II, pun tidak luput dari kasus kehilangan. 

Ada pola yang sama,yaitu kasus kehilangan terjadi pada hari Jum’at.

Karena penasaran, siswa-siswa kelas III memasang kamera perangkap yang disembunyikan di asrama mereka. Sebelum salat Jum’at dipasang. Setelah salat Jum’at diperiksa. Hasilnya? 

Anak kelas I yang sudah diduga sebelumnya, benar-benar masuk, naik ke Asrama kelas III. Rekaman kamera sangat jelas memperlihatkan aktivitas anak itu yang membuka-buka lemari, tas, selimut, dan lain-lain.

Anak itu dipanggil oleh bagian keamanan, tapi tidak mengaku. Akhirnya saya yang turun tangan. Saya bicara baik-baik, dan akhirnya ia mengakui telah beberapa kali melakukan pencurian. Saya pun memutuskan memulangkan anak itu.

2 hari kemudian, ada 6 pesan WA yang dikirimkan anak itu ke nomor saya. Isinya judul jadul. Ia zalim teriak zalim,maling menuduh maling. Ia menuduh bahwa teman-temannya lah yang telah berbuat salah, barang-barangnya lah yang diambil, dan dia terzalimi. 

6 pesan itu dimulai dengan kalimat, “Mohon nasihati mereka, Ustadz” dan ditutup dengan “ Ana serahkan masalah ini pada Allah saja”.

Saya jawab, “ Tapi, Mas kemarin, saat Ana ajak bicara bakda Subuh, Mas mengakui telah melakukannya : satu kali di Asrama III, tiga kali di Asrama Barat. Padahal, Ana tidak memaksa Mas bicara. Ana hanya minta Mas bicara jujur”.

Setelah itu, saya kirimkan potongan rekaman kamera bukti perbuatannya. Sebelumnya, rekaman kamera tersebut tidak saya tunjukkan. Sampai hari ini, pesan WA terakhir dari saya hanya centang satu.

Bulan Oktober 2022, ada lagi kasus lain. Seorang siswa yang dijauhi teman-temannya. Banyak yang mengeluhkan sikap dan perilakunya. Suka berhutang, bahkan sering dengan nada memaksa. Kalau barang-barang keseharian, sudah umum diketahui, asal ambil sabun, shampo, deterjen, pasta gigi, dan lain-lain. Lebih dari satu kali tertangkap basah mengambil uang milik teman-temannya, namun pandai juga ia berkelit. Katanya, “ Saya hanya pinjem kok”.

Berkali-kali saya emosi dan setiap kali itu, ia memelas dan minta dimaafkan. Sudah berulang buat surat pernyataan untuk tidak mengulangi dan selalu saya beri kesempatan lagi. 

Sampai pada puncaknya, ketika 9 siswa sama-sama menagih hutang pada anak itu. Padahal dia telah berjanji berkali-kali untuk tidak mengulangi. Terpaksa, saya kembalikan kepada orang tuanya.

Rupanya, ada pola yang seragam pada orang yang berkarakter demikian, yaitu pandai bicara, pintar mencari-cari alasan, memanipulasi cerita, seolah lancar berbohong, mampu meyakinkan orang, dan tidak malu menampakkan sikap memelas bahkan menangis.

Teringat kisah nabi Yusuf bersama kakak-kakaknya. Rasa hasad telah membuat gelap cara berpikir. Mereka rapat, mereka menyusun rencana. Mereka berdusta, dan mereka membohongi ayah mereka. Dibuatlah seolah-olah Yusuf mati diterkam serigala. Dibawalah baju berlumur darah palsu. 

وَجَاءُوا أَبَاهُمْ عِشَاءً يَبْكُونَ

“ Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis “ ( QS Yusuf; 16 )

Setelah bertemu puluhan tahun berikutnya, Nabi Yusuf memang memaafkan. Namun, kakak-kakaknya tidak malu untuk meminta maaf dan tidak gengsi untuk mengakui bahwa mereka telah berbuat salah.

Maka, ketika bertemu dengan orang berkarakter zalim teriak zalim, maling menuduh maling, janganlah kaget karena itu judul jadul. 

Jika ia ingin serius berbenah diri, sunggguh-sungguh hendak memperbaiki, apa hak kita untuk menutup kesempatan? Namun, jika malah menjadi-jadi dan tidak tahu diri, lebih baik menghindari, sambil mengatakan seperti ayah nabi Yusuf mengatakan :

بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ

“ Tetapi diri kalian telah memandang baik perbuatan jahat itu, (sehingga kalian melakukannya). Maka, kesabaran itu amatlah indah. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan- Nya terhadap apa yang kamu ceritakan “

Lendah, 09 Dzulqa’dah 1444 H/29 Mei 2023

t.me/anakmudadansalaf


arsip anak muda dan salaf

Mendidik Anak Unik

Mendidik Anak Unik

Mendidik Anak Unik

Mendidik Anak Unik

Mendidik anak adalah seni tersendiri. Apalagi jika anak tergolong unik, tentu memiliki nilai artistik. 

Kata kuncinya ialah memahami secara sadar bahwa tiap-tiap anak mempunyai sifat dan karakternya. 

Tiap anak berbeda dengan anak yang lain. Jangan paksakan anak untuk sama dan seragam dalam segala hal. Sehingga kita bisa lebih cermat dan bijak dalam proses mendidik.

Mestinya hal ini sudah kita sadari melalui kenyataan sehari-hari.

Sebuah produk otomotif dengan merk dan type yang sama, seringkali harus dengan perlakuan yang berbeda. Alat eletronik dari pabrikan yang sama, bukankah tetap saja berbeda? Beternak burung, kambing, sapi, atau hewan lainnya, apakah bisa kita pastikan sama hasilnya? Walau diberi perlakuan yang sama.

Apalagi manusia. Lebih-lebih anak.

Beberapa waktu yang lalu, saya diberi informasi oleh seorang pengajar bahwa Ibrahim, murid kelas I, menulis angka dan kata dengan terbalik. Latin ditulis dari arah kanan. Huruf dan angkanya pun terbalik seperti dilihat dari cermin. Uniknya lagi, Ibrahim mampu membaca buku Aisar karya Ustadz Fauzi dengan terbalik. Lancar!

Subhaanallah!

Lalu, saya tertarik untuk mengamati 5 murid di kelas I itu. Benar! 4 murid selain Ibrahim masing-masing memiliki keunikan. Ada yang tidak mau terlambat dan harus nomor satu tiba di kelas. Kalau terlambat sehingga menjadi nomor dua, anak itu kesal. Ada yang sejak hari pertama hanya diam dan tidak ikut bermain bersama teman-temannya. Tapi, ia tetap menyaksikan dan berekspresi dengan senyum atau tertawa. Ada yang aktifnya luar biasa. Satunya lagi biasa-biasa saja.

Manusia memiliki sifat berbeda-beda. 

Nabi Muhammad ﷺ bersabda dalam hadis Abu Musa riwayat Abu Dawud (4693) dan disahihkan Al Albani ( As Sahihah, 1630) :

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ مِنْ قَبْضَةٍ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيعِ الْأَرْضِ، فَجَاءَ بَنُو آدَمَ عَلَى قَدْرِ الْأَرْضِ: جَاءَ مِنْهُمُ الْأَحْمَرُ، وَالْأَبْيَضُ، وَالْأَسْوَدُ، وَبَيْنَ ذَلِكَ، وَالسَّهْلُ، وَالْحَزْنُ، وَالْخَبِيثُ، وَالطَّيِّبُ

“ Sungguh, Allah menciptakan Adam dari segenggam tanah yang Dia genggam dari semua permukaan bumi. Maka, anak keturunan Adam lahir sesuai jenis tanah. Ada yang lahir dengan kulit merah, putih, atau hitam. Ada yang sifatnya lembut, kasar, buruk, dan baik “

Maka, mendidik anak haruslah dibangun di atas pondasi obyektifitas. Bukan bagaimana menuntut anak untuk memahami apa yang kita sampaikan, namun juga berusaha memahami apa yang diinginkan anak. Bukan pula memaksa anak untuk menguasai satu bidang yang bukan maunya, padahal ada bidang lain yang anak lebih senang di sana.

Mencari dan menggali kelebihan anak harus dilakukan. Sebab, setiap anak pasti punya kelebihan. Yang positif tentunya.

Kita pun harus mengamati perkembangan anak. Bukan hanya fisiknya. Mental, sosial, akademis, dan aspek-aspek lainnya pun mesti diperhatikan.

Jika memiliki sifat yang positif, harus didukung dan diarahkan. Dermawan, misalnya. Bantulah anak agar tepat di dalam berbagi dan memberi. Berilah contoh yang baik. Jangan pula kebablasan hingga malah boros atau tidak merawat barang.

Jika terlihat bibit sifat yang buruk, segera ditempuh langkah penyembuhan. Tidak mau mengalah, misalnya. Ajarilah anak untuk mengalah. Praktekkan di depannya. Jangan sampai keterusan. Khawatir ke depannya semakin parah. Memiliki karakter ingin selalu menang, memandang yang lain rendah, tidak mau dibilang salah, bahkan berani berbohong untuk menutupi kesalahan. Tentu kita tidak mau memiliki anak semacam ini, bukan? Apalagi kalau sudah terlanjur ditokohkan dan merasa banyak pengikut. Na’udzu billah

Lendah, 05 Dzulqa’dah 1444 H/25 Mei 2023

t.me/anakmudadansalaf


arsip anak muda dan salaf

Bahaya Penyakit 'Ain dan Cara Pencegahannya

Bahaya Penyakit 'Ain dan Cara Pencegahannya

KETIKA PANDANGAN MATA BERHASIL MENYAKITI


Apabila rasa hasad telah melambung tinggi, namun pemiliknya tak mampu melampiaskannya lewat lisan dan fisik, maka dia akan memendam bara api kedengkiannya dalam jiwa.

Dia hanya mampu memandang musuhnya dengan pandangan hasad yang meledak-ledak, ketika itulah penyakit 'ain beraksi untuk menyakiti orang yang didengki bak virus yang berbahaya.

Bila orang yang didengki tidak memiliki perisai jiwa dan ruh berupa dzikrullah, maka dia akan jatuh sakit dengan sebab pandangan tersebut.

Bahkan yang lebih mengerikan kedengkian tersebut bisa memberikan efek negatif pada yang dihasadi tanpa melalui kontak mata, hanya dengan  membayangkan kejelekan untuk musuhnya.

Al Imam Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata:

ونفس العائن لا يتوقف تأثيرها على الرؤية ، بل قد يكون أعمى فيوصف له الشيء فتؤثر نفسه فيه وإن لم يره ، وكثير من العائنين يؤثر في المعين بالوصف من غير رؤية

“ ’Ain bukan hanya lewat jalan melihat. Bahkan orang buta sekali pun bisa membayangkan sesuatu, lalu ia bisa memberikan pengaruh ‘ain meskipun ia tidak melihat. Banyak kasus yang terjadi yang menunjukkan bahwa ‘ain bisa menimpa seseorang hanya lewat khayalan tanpa melihat."
[Zaadul Ma'ad 4/153]

Maka hendaknya kita membentengi diri dengan benteng terkokoh untuk membendung serangan musuh yang nampak dan tidak nampak yaitu dzikrullah.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم  meminta perlindungan untuk Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu ’anhuma kepada Allah ta’ala dari penyakit ‘ain, sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ وَيَقُولُ إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّة

“Nabi صلى الله عليه وسلم  pernah meminta perlindungan untuk Al-Hasan dan Al-Husain (kepada Allah ta’ala) dan beliau berkata (kepada Al-Hasan dan Al-Husain), sesungguhnya bapak kalian berdua (yaitu nabi Ibrahim ‘alaihissalam) meminta perlindungan untuk Ismail dan Ishaq dengan membaca:

أَعُيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

“U’idzukuma bi kalimaatillaahit taammaati min kulli syaithonin wa haammatin wa min kulli ‘ainin laammatin.”

Aku meminta perlindungan untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang maha sempurna dari setan, binatang berbisa dan mata yang dengki .”

[HR. Al-Bukhari no 3371]
http://bit.ly/uimusy

---------------------

Menjaga Anak-Anak Dari Mara Bahaya Dan Penyakit Ain

Pertanyaan

Bagaimana cara kita menjaga anak-anak dari penyakit ain?

Jawaban

Dengan doa, anda bisa membacakan kepada anak-anak doa

أعيذك بكلمات الله التامات من شر ما خلق

U’iidzuka bikalimaatillaah at-Taammaati min syarri maa kholaq

Artinya : “Aku memohonkan perlindungan untukmu dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan yang telah Dia ciptakan”

Doa ini dibaca tiga kali ketika akan tidur atau pada siang hari atau kapan saja.

Berdoa memohonkan perlindungan untuknya kepada Allah.

Dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam memohonkan perlindungan untuk al-Hasan dan al-Husain dengan mengatakan

أُعِيْذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

Artinya, “Aku memohonkan perlindungan untuk kalian berdua dengan kalimat Allah yang sempurna dari semua setan, hewan melata, dan (penyakit ain) yang ditimbulkan mata jahat.”

Demikianlah, anda mengucapkan kepada seorang anak

أعيذك

Artinya: “Aku melindungimu”

Jika anak-anak jumlahnya banyak, maka anda mengucapkan

أعيذكم

Artinya: “Aku melindungi kalian”

Narasumber: Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله

Rujukan: Al-Mauqi'ur Rosmii lisamahatis Syaikh bin Baz رحمه الله

Sumber: https://salafytemanggung.com/menjaga-anak-anak-dari-mara-bahaya-dan-penyakit-ain/

--------------

Bahaya Penyakit 'Ain dan Cara Pencegahannya

TERKADANG ANAK KECIL MENANGIS KARENA 'AIN

Aisyah radhiyallahu anha berkisah, 

"Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar suara tangisan seorang anak kecil. Maka beliau bersabda,

مَا لِصَبِيِّكُمْ هَذَا يَبْكِى فَهَلاَّ اسْتَرْقَيْتُمْ لَهُ مِنَ الْعَيْنِ

“Kenapa anak kecil kalian ini menangis terus? Tidakkah kalian merukyahnya agar dia sembuh dari penyakit 'ain.”

HR. Ahmad dan Syaikh al-Albani rahimahullah menshahihkannya dalam ash-Shahihah 1408

https://t.me/KajianIslamTemanggung

----------------
BERBAHAYANYA PENYAKIT 'AIN

 Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin Rahimahullah berkata:

قد يُصاب الإنسان المتدين بالعين ويضيق صدره بالعبادة، أو يصاب بالعين فينسى ما حفظ، أو يصاب بالعين فيعجز أن يحفظ. فالعين -نسأل الله العافية- قال فيها الرسول عليه الصلاة والسلام : "لو سبق القَدر شيء لسبقته العين". صحيح، رواه مسلم ٢١٨٨

"Terkadang seseorang yang saleh ditimpa penyakit 'ain, sehingga mengakibatkan dadanya menjadi sesak ketika beribadah, atau ditimpa penyakit 'ain sehingga lupa semua hafalannya, atau ditimpa penyakit 'ain sehingga ia lemah dalam menghafal.

Penyakit 'ain (Kami meminta keselamatan kepada Allah) sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

"Kalau saja ada sesuatu mendahului takdir, niscaya akan didahului oleh 'ain."

(Sahih, HR. Muslim no. 2188) || t.me/hikmahsalafiyah


📚 Liqaat al-Bab al-Maftuh 20/61

------------------

DOA RUQYAH DARI 'AIN, HASAD DAN PENYAKIT 

امْحُ البأسَ ربَّ الناسِ، بيدِك الشفاءُ، لا يكشفُ الكربَ إلا أنتَ

"Hilangkanlah penyakit ini wahai rabb manusia, di tangan-Mu lah kesembuhan dan tidak ada yang mampu menyingkap kesulitan kecuali Engkau." 

📚 (Syaikh Al Albani dalam As-Silsilatus Shahihah 1526). 

t.me/salafy_cirebon
-----------------

BERLINDUNG TERHADAP PENYAKIT AL-'AIN DENGAN MENDOAKAN KEBERKAHAN


Berkata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

إذا رأى أحدكم من نفسه أو ماله أو من أخيه ما يعجبه فليدع له بالبركه فإن العين حقّ.

Jika salah seorang di antara kalian melihat sesuatu yang menakjubkan pada dirinya, hartanya, atau saudaranya, hendaklah dia mendoakan keberkahan baginya, karena sesungguhnya Al 'Ain (musibah atau penyakit yang ditimbulkan oleh pandangan mata takjub, terkadang disertai hasad) itu benar adanya.

📚 Disahihkan oleh Al Albaaniy dalam shohih Al Jaamiy, 556
https://t.me/salafy_sorowako

------------------------

PENYAKIT 'AIN TIDAK SELALU DISEBABKAN SIFAT HASAD


Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar al-'Asqalani rahimahullah,

وَأَنَّ الْعَيْنَ تَكُونُ مَعَ الْإِعْجَابِ وَلَوْ بِغَيْرِ حَسَدٍ وَلَوْ مِنَ الرَّجُلِ الْمُحِبِّ وَمِنَ الرَّجُلِ الصَّالِحِ

"Penyakit 'ain bisa terjadi bersama rasa kagum meski tanpa adanya sifat dengki (hasad), sehingga bisa saja bersumber dari orang yang mencintainya bahkan dari seorang yang shalih (tanpa disengaja)". 

📚 Fathul Bari, 10/205. || t.me/hikmahsalafiyah

-----------------

JANGAN BURU-BURU MENYIMPULKAN APA YANG MENIMPAMU

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

كثر في هذه الآونة الأخيرة أوهام الناس وتخيلاتٌ بأن ما يصيبهم فهو: ( عينٌ ) أو ( سحرٌ ) أو ( جنٌ ) . حتى لو يصاب بعضهم بالزكام قال: إنه ( عين ) أو ( سحر ) ! وهذا غلط. أعرض أيها المسلم عن هذا كله، وتوكل على الله واعتمد عليه، ولا توسوس به حتى يعرض عنك ؛ لأن الإنسان متى جعل على باله شيئاً شغل به، وإذا تغافل عنه وتركه لم يصب بأذى.

“Saat ini banyak orang membayangkan dan berkhayal bahwa apa yang menimpa mereka itu adalah Ain (sakit karena pandangan mata dengki/ta’jub), sihir, atau perbuatan jin.
 
Bahkan seandainya ada dari mereka tertimpa sakit flu, niscaya dengan mudah dia katakan: “Sungguh ini adalah ‘ain atau sihir”.

Tentunya ini angapan yang salah.

Wahai muslim berpalinglah dari seluruh anggapan ini, bertawakkallah kepada Allah, bergantunglah kepada-Nya, Jangan merasa was-was dengan hal ini sehingga menyita perhatianmu. Sebab ketika  seseorang membayangkan suatu hal di benaknya, niscaya dia tersibukkan karenanya. Namun bila dia melalaikannya dan meninggalkannya, niscaya dia tidak terganggu.”

📚Fatawa Nurun ‘Ala ad Darb kaset nomer 366 Musawiul Akhlaq

Sumber @Salafy_Ponorogo

-------------------

APA YANG DISYARIATKAN AGAR BISA TERJAGA DARI PENYAKIT AIN?

Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah

Pertanyaan :

Jika ada sesuatu yang ditakuti seseorang dari penyakit ain, apakah ada sesuatu dari Al-Kitab dan as-Sunnah yang bisa mencegah penyakit ‘ain?

Jawaban :

Naam, jika engkau takut dari penyakit ‘ain, hendaknya engkau membaca : 

بارك الله فيه

Baarakallahu fiihi
(semoga Allah memberkahinya)

Atau membaca :

 ما شاء الله، لا قوة إلا بالله

“Maasyaa Allah laa quwwata illaa billaah.”
(sesuai kehendak Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)

Dibacakan terhadap rumah, makanan, atau anak atau selainnya (yang dikawatirkan akan kena ‘ain)

Membaca  :

ما شاء الله، لا قوة إلا بالله، بارك الله فيه، اللهم بارك فيه

“Maa sya Allah laa quwwata illa billah.
Baarakallahu fiihi
Allahumma baarik fiihi.”

Sambil diiringi dengan keyakinan kepada Allah, bersandar kepadaNya. Sesungguhnya tidak akan menimpa dirimu kecuali yang telah Dia takdirkan untukmu.

📑 Fatawa Ad-Duruus || t.me/ahlussunnahposo

---------------

 DOA PERLINDUNGAN UNTUK ANAK KECIL

Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ يَقُولُ:

“Nabi shallallahu alaihi wa sallam membacakan doa memohon perlindungan terhadap al-Hasan dan al-Husain (keduanya adalah cucu beliau). Beliau membacakan,

أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

U'IIDZUKUMAA BIKALIMAATILLAAHIT TAAMMATI MIN KULLI SYAITHAANIN WA HAAMMATIN WA MIN KULLI ‘AININ LAAMMATIN

“Aku memohon perlindungan kepada Allah untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari setiap kejahatan setan dan binatang yang mengganggu, dan dari setiap mata yang hasad (dengki).”

Kemudian, beliau bersabda,

هَكَذَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يُعَوِّذُ إِسْحَاقَ وَإِسْمَاعِيلَ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ

“Demikianlah (dahulu) ayah kalian, Nabi Ibrahim, juga membacakan doa memohon perlindungan untuk putra beliau, Ismail dan Ishaq alaihimussalam.” (HR. at-Tirmidzi no. 2060. Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi no. 2060)

✍🏻 Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa ketika seseorang mengamalkan hadits di atas, dia boleh mengganti dhamir (kata ganti) untuk menyesuaikan. (Lihat Nur ‘Ala ad-Darb: Kaifiyyah Wiqayah ath-Thifl Min al-‘Ain)

Untuk memudahkan, bisa digunakan dhamir yang umum, yaitu  كُمْ (kalian), sehingga bacaannya menjadi,

أُعِيذُكُمْ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

U‘IIDZUKUM BIKALIMAATILLAAHIT TAAMMATI MIN KULLI SYAITHAANIN WA HAAMMATIN WA MIN KULLI ‘AININ LAAMMATIN

https://asysyariah.com/amalan-yang-bermanfaat-pada-masa-wabah-2/

-----------------

 BUKAN BERARTI KAMU GANTENG

Berkata al 'Allaamah Ibnu Utsaimin rahimahullah :

Jika engkau ditimpa penyakit 'ain bukan berarti engkau ganteng atau kaya, tapi karena engkau kurang dalam mengingat ALLAH  ta'aala

Sumber : Al fawaid al 'adzimah lil adzkar
https://t.me/KajianIslamTemanggung

----------------------------

BUTUHNYA KITA TERHADAP PENJAGAAN ALLAH

Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullahu Ta'ala berkata:

(Surah Al Falaq dan Surah An Nas) Tak seorangpun kecuali senantiasa butuh terhadap kedua surah ini. Keduanya memiliki pengaruh khusus dalam menangkal sihir, 'ain, dan berbagai kejelekan. Juga, butuhnya seseorang berlindung kepada Allah melalui dua surah ini lebih besar dibandingkan butuhnya dia terhadap nafas, makan, minum dan pakaian.

📚 Badaai'ul Fawaaid, 199/2
https://t.me/salafymakassar
---------------------------

OBAT SIHIR DAN 'AIN


Al-'Allâmah Asy-Syaikh 'Abdul 'Azîz bin Bâz rahimahullâh berkata,

"Bagi seseorang yang terkena sihir atau 'ain atau penyakit:
Hendaknya engkau sering membaca Al-Qur-ân, mohonlah Rabb-mu ﷻ berupa kesembuhan dan kesehatan yang baik, dan mintalah tolong kepada-Nya di kala sujud di akhir malam dan di akhir (setiap) Shalât.

Adapun mengunjungi peramal, pendeta, ahli nujum atau penyihir, semuanya adalah kejelekan, tetapi perlindungan Allâh-lah yang hendaknya dicari"

Fatâwâ Nûr 'alâ Darb (3/314)

t.me/pristinemethology/2343
http://t.me/jadilahsalafiysejati

--------------------------------

 BAHAYA PENYAKIT 'AIN

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,

ﻻ ﻳﺘﻮﻗﻒ ﺃﺫﻯ اﻟﻌﺎﺋﻦ ﻋﻠﻰ اﻟﺮﺅﻳﺔ ﻭاﻟﻤﺸﺎﻫﺪﺓ ﺑﻞ ﺇﺫا ﻭﺻﻒ ﻟﻪ اﻟﺸﻲء اﻟﻐﺎﺋﺐ ﻋﻨﻪ ﻭﺻﻞ ﺇﻟﻴﻪ ﺃﺫاﻩ .

"Gangguan pelaku 'ain tidak hanya terhadap sesuatu yang terlihat dan disaksikan saja. Bahkan ketika digambarkan kepadanya sesuatu yang tidak terlihat, maka gangguan itupun bisa sampai kepadanya."

Madarijus Salikin 1/404
https://t.me/KajianIslamTemanggung

----------------------------------

ORANG DEWASA BISA TERKENA PENYAKIT 'AIN

Pertanyaan:

Saya mau bertanya tentang penyakit ain. Apakah penyakit ain bisa mengenai orang dewasa juga? Sebab, yang saya tahu, penyakit itu akan mudah mengenai anak-anak.

Jawaban:

"Penyakit ain tidak hanya menimpa anak-anak. Dengan izin Allah, ia terkadang juga menimpa orang dewasa.

Hal ini pernah terjadi pada zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Suatu ketika Amir bin Rabi’ah melihat Sahl bin Hunaif sedang mandi. Kemudian dia berkata, 
“Demi Allah, aku belum pernah melihat seperti hari ini, dan belum pernah melihat kulit (tubuh) yang tersembunyi.”

Tiba-tiba Sahl terjatuh pingsan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mendatangi Amir dan marah kepadanya, sembari berkata, 
“Atas kesalahan apa salah seorang dari kalian tega membunuh saudaranya? Mengapa engkau tidak mengatakan ‘Allahumma barik alaihi?’ (ketika melihatnya)? Mandilah engkau untuknya!”

Amir lalu mandi dengan mencuci wajah, telapak tangan, siku, kaki, jari-jemari kakinya, dan mencuci bagian tubuh yang tertutup kain sarungnya. Air bekas mandinya ditampung di bejana, kemudian disiramkan kepada Sahl. Sahl pun bisa pergi bersama manusia dalam keadaan biasa/sembuh.
(HR. Ahmad 3/486 no. 15980)

Kisah yang lain, suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat di rumahnya ada seorang budak perempuan yang wajahnya terkena ain. 
Beliau bersabda,

اسْتَرْقُوا لَهَا، فَإِنَّ بِهَا النَّظْرَةَ

“Ruqyahlah dia karena sesungguhnya dia terkena ain.”
(HR. al-Bukhari no. 5739 dan Muslim no 2197 dari Ummu Salamah radhiallahu anha)

☝🏻Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sakit, di antara doa yang dibacakan oleh Malaikat Jibril alaihis salam ialah,

فُضِّلْتُ عَلَى الْأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ: أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ، وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ، وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَهُورًا وَمَسْجِدًا، وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِبِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ اللهُ يَشْفِيْكَ، بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ

“Bismillah (dengan nama Allah) aku meruqyahmu, dari segala sesuatu yang mengganggumu, dari segala jiwa atau ain orang yang hasad. Allah-lah yang menyembuhkanmu. Bismillah aku meruqyahmu.”
(HR. Muslim)

Ini semua menunjukkan bahwa orang dewasa bisa menjadi korban penyakit ain.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjaga kita darinya. Wallahu a’lam bish-shawab."

Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar hafizhahullah
Sumber : asysyariah.com

Shalawat-shalawat Bid'ah

Shalawat-shalawat Bid'ah

SHALAWAT-SHALAWAT YANG BID'AH

Shalawat-shalawat Bid'ah

Kita sering mendengar rangkaian-rangkain lafazh shalawat kepada Nabi ﷺ yang dibuat-buat tidak sesuai dengan yang datang dari ucapan Nabi ﷺ, tidak pula dari para shahabat, tabi'in dan para ulama ahli ijtihad. Namun, rangkaian-rangkaian itu dibuat oleh para guru yang datang belakangan.

Rangkaian-rangkaian shalawat ini laris manis di tengah kalangan awwam, bahkan ahli ilmu. Mereka pun lebih sering membacanya daripada membaca rangkaian lafazh shalawat yang datang dari Nabi ﷺ. Terkadang mereka malah meninggalkan rangkaian lafazh shalawat yang shahih dari Nabi ﷺ, lalu menyebarkan rangkaian lafazh shalawat yang dinisbatkan kepada guru-guru mereka sendiri.

Bila kita seksama memperhatikan rangkaian-rangkaian lafazh shalawat ini, kita akan melihat padanya terdapat penyelisihan terhadap petunjuk Nabi ﷺ.

Di antara rangkaian lafazh shalawat yang dibuat-buat itu antara lain:

١. الصلاة و السلام عليك يا أول خلق الله

1. "Shalawat dan salam semoga terlimpah kepadamu wahai makhluk Allah yang pertama".

Saya katakan: hal ini menyelisihi apa yang datang dengannya Al-Qur'an. Karena makhluk Allah yang paling pertama dari kalangan manusia adalah Nabi Adam 'Alaihissalam. Allah ta'ala berfirman;

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰئِكَةِ إِنِّى خَٰلِقٌۢ بَشَرًا مِّن طِينٍ

"Ingatlah (ketika Rabbmu berfirman kepada malaikat, "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah) yaitu Adam". Qs. Shad: 71.

Yang benar hendaknya mengucapkan;

الصلاة و السلام عليك يا خير خلق الله، أو خاتم رسل الله

"Shalawat dan salam semoga tercurah kepadamu wahai sebaik-baik makhluk Allah", atau "Wahai penutup para rasul Allah".

٢. اللهم صل على محمد و على آل محمد حتى لا يبقى من الصلاة شيء، و ارحم محمد و آل محمد حتى لا يبقى من الرحمة شيء، و بارك على محمد و على آل محمد حتى لا يبقى من البركة شيء، و سلم على محمد و على آل محمد حتى لا يبقى من السلام شيء.

2. "Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sehingga tidak tersisa dari shalawat sedikitpun. Ya Allah, rahmatilah Muhammad dan keluarga Muhammad sehingga tidak tersisa dari rahmat sedikitpun. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sehingga tidak tersisa dari berkah sedikitpun. Ya Allah, curahkanlah salam sejahtera kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sehingga tidak tersisa dari salam sedikitpun".

Ucapannya, "Sehingga tidak tersisa dari shalawat sedikitpun...sehingga tidak tersisa dari rahmat sedikitpun...sehingga tidak tersisa dari berkah sedikitpun" ini merupakan filosofi yang kosong dari makna yang padanya terdapat penyempitan terhadap rahmat Allah yang luas, juga terhadap berkah dan salam-Nya.

Dan ini menafikan firman Allah ta'ala;

قُلْ لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا

"Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” Qs. Al-Kahfi: 109

٣. اللهم صلى على محمد و على آل محمد عدد من صلى عليه، - إلى قوله - اللهم صل على من كان إذا مشى فى البر الأقفر تعلقت الوحوش بأذياله

3. "Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sejumlah orang yang bershawalat kepadanya". - Sampai pada ucapannya - "Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada beliau yang bila berjalan di padang yang liar binatang-binatang buas bergelantungan di ujung-ujung bajunya".

Saya katakan: ini merupakan kedustaan yang besar atas Nabi ﷺ dan sikap berlebihan terhadapnya. Aku tidak tahu, bagaimana mereka menyatakan yang seperti itu, padahal beliau ﷺ tidak memberitahu kepada kita hal tersebut. 

Bertakwalah kalian kepada Allah !

Jika binatang-binatang buas bergelantungan di ujung bajunya, bagaimana beliau akan mampu berjalan ?!

٤. اللهم صل على محمد و على آله بحر أنوارك و معدان أسرارك

4. "Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarganya; lautan cahaya-Muu dan tempat penyimpanan rahasia-rahasia-Mu".

Saya katakan: jika Nabi ﷺ adalah lautan cahaya Allah dan tempat penyimpanan rahasia-Nya, apakah cahaya-Nya berarti sudah padam dan rahasia-Nya juga lenyap dengan meninggalnya Nabi ﷺ ?!

٥. اللهم صل على من تفتقت من نوره الأزهار

5. "Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada beliau yang bunga-bunga itu mekar karena (mendapat) sinarnya".

Saya katakan: ini juga merupakan kedustaan yang dibuat oleh kaum shufi. Nabi Muhammad ﷺ itu diciptakan dari tanah. Allah ta'ala berfirman;

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ

"Katakanlah (hai Rasul), saya ini hanyalah manusia seperti kalian" Qs. Al-Kahfi: 110

Dan bunga-bunga itu tidaklah mekar karena beliau. Dan tidak pula ada dalil yang menunjukkan hal tersebut.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya" Qs. Al-Isra: 36

٦. اللهم صل على سيدنا محمد السابق للخلق نوره

6. Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada junjungan kami, Muhammad yang cahayanya mendahului segenap makhluk.

Saya katakan: beliau tidak diciptakan dari cahaya, melainkan diciptakan dari tanah. Beliau terlahir dari sepasang ayah dan ibu. Bahkan, makhluk pertama dari kalangan manusia itu adalah Nabi Adam alaihissalam.

Allah ta'ala berfirman;

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰئِكَةِ إِنِّى خَٰلِقٌۢ بَشَرًا مِّن طِينٍ

"Ingatlah (ketika Rabbmu berfirman kepada malaikat, "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah) yaitu Adam". Qs. Shad: 71.

٧. اللهم صل على أفضل من طاب منه البخار  وسحابه الفخار و استنارت بنور جبينه الأقمار ......

7. Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada seutama-utama manusia yang karena sebabnya uap menjadi baik serta awan-awannya pun besar, bulan-bulan bersinar karena cahaya dahinya....

Saya katakan: pernyataan bahwasannya bulan itu bersinar karena cahaya dahinya itu bathil tidak ada dalil atasnya. Bahkan, bulan itu sudah ada sebelum beliau dilahirkan.

٨. اللهم صل على محمد هو قطب الجلالة

8. Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, dialah pemilik kebesaran.

Saya katakan: pernyataan bahwasannya Nabi ﷺ adalah pemilik kebesaran itu syirik terhadap Allah. Karena Allah ta'ala sematalah pemilik kebesaran dan karunia.

Allah ta'ala berfirman;

تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

"Maha Agung nama Tuhanmu, Yang memiliki kebesaran dan karunia". Qs. Ar-Rahman: 55

٩. اللهم صل على من منه انشقت الأسرار و انفلقت الأنوار و ارتقت الحقائق و تنزلت علوم آدم

9. Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada beliau yang karenanya rahasia-rahasia tersingkap, sinar-sinar memancar, informasi-informasi naik, dan ilmunya Adam turun.

Saya katakan: dari mana (landasan) mereka menyatakan pernyataan bathil ini; bahwa ilmunya Adam turun dari beliau ?! Demikian pula karena beliau, sinar-sinar memancar ?! 

Padahal Allah ta'ala telah menjelaskan di dalam kitab-Nya; 

وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلْأَسْمَآءَ كُلَّهَا

"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya" Qs. Al-Baqarah: 31.

Allah ta'ala juga berfirman;

وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

"Dan tidaklah kalian diberi ilmu melainkan hanya sedikit" Qs. Al-Israa: 85.

Maka Allah-lah yang memberi ilmu kepada Adam dan anak keturunannya. Allah memuliakan Adam dengan hal itu, dan Allah memerintahkan para Malaikat untuk sujud penghormatan kepada Adam.

١٠. اللهم صل على محمد طب القلوب و دوائها، و عافية الأبدان و شفائها، و نور الأبصار و ضيائها، و على آله و سلم

10. "Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad; dokter hati dan obatnya, kesehatan badan dan penyembuhnya, cahaya mata dan sinarnya. Dan juga semoga terlimpah kepada keluarganya". 

Saya katakan: sesungguhnya yang memberi kesembuhan dan kesehatan terhadap badan, hati, dan mata adalah Allah ta'ala semata. Sedang Rasul ﷺ tiada kuasa memberi manfaat untuk diri sendiri dan juga orang lain. 

Maka rangkaian shalawat ini menyelisihi firman Allah ta'ala;

قُلْ لَّآ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ

"Katakanlah (hai Rasul), aku tidaklah kuasa menolak madharat dan mendatangkan manfaat kecuali apa yang Allah kehendaki" Qs. Yunus 49.

Dan juga menyelisihi sabda Rasul ﷺ;

لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم، فإنما أنا عبد فقولوا عبد الله و رسوله

"Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana kaum nasrani berlebihan memuji putra Maryam (Nabi Isa), saya hanyalah hamba (Allah), maka katakanlah: hamba Allah dan rasul-Nya". HR. Bukhari.

Makna Al-Ithra ( الإطراء ) adalah melampui batas atau menambahi dalam memuji.

11. Saya melihat di dalam kitab tentang keutamaan shalawat milik seorang Syaikh pembesar Shufi dari Libanon; terdapat padanya rangkaian shalawat seperti berikut;

اللهم صل على محمد حتى تجعل منه الأحدية القيومية

"Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad sehingga engkau jadikan darinya (untuk beliau) ketunggalan dan kemandirian".

Saya katakan: الأحدية ( Ketunggalan ) dan القيومية ( Kemandirian ) termasuk sifat-sifat Allah ta'ala yang disebutkan di dalam Al-Qur'an, sementara syaikh ini malahan menjadikannya untuk Rasul ﷺ.

١٢. اللهم صل على محمد الذي خلقت من نوره كل شيء

"Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, yang Engkau telah menciptakan dari cahayanya segala sesuatu".

Saya katakan: segala sesuatu berarti mencakup Nabi Adam, Iblis, kera, dan babi. Apakah masuk akal bila mereka semuanya diciptakan dari cahaya Muhammad ﷺ?

Sungguh, Iblis telah mengakui penciptaan dirinya dan Nabi Adam ketika ia berkata (sebagaimana disebut) di dalam Al-Qur'an;

أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ  خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ

"Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah". Qs. Shaad: 76.

١٣. الصلاة و السلام عليك يا رسول الله، قد ضاقت حيلتي فأدركني يا حبيب الله

13. "Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepadamu wahai rasulullah, sungguh telah habis upayaku, maka bantulah aku wahai kekasih Allah".

Saya katakan: bagian pertama dari shalawat ini benar.

Namun, yang berbahaya dan termasuk kesyirikan adalah bagian yang kedua. Yaitu pada bunyi, "bantulah aku wahai kekasih Allah".

Ini menyelisihi firman Allah ta'ala;

أَمَّن يُجِيبُ ٱلْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَآءَ ٱلْأَرْضِ  أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِ  قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ

"Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)". Qs. An-Naml: 76.

Dan firman-Nya;

وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ

"Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri". Qs. Al-An'am: 17

Dan juga, ketika Rasulullah ﷺ ditimpa kesedihan dan kegundahan beliau mengucapkan;

يا حي يا قيوم، برحمتك أستغيث

"Wahai Dzat yang Maha hidup lagi Maha Qayyum, dengan (bertawassul menggunakan) rahmat-Mu, aku meminta bantuan.." Hasan, HR. Tirmidzi.

Lalu, bagaimana kita boleh mengucapkan kepada beliau, "bantulah kami, selamatkanlah kami". Dan rangkaian shalawat ini menyelisihi sabdanya;

إذا سألت فاسأل الله، و إذا استعنت فاستعن بالله

 "Jika kamu memohon, maka memohonlah kepada Allah. Dan jika kamu meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah" HR. Tirmidzi.

https://t.me/RaudhatulAnwar1


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik